NAMA : AULIA RAHMANANDA
KELAS : 1 EB 32
NPM :
21214832
TUGAS :
PEREKONOMIAN INDONESIA
DOSEN : R. HARDADI
1. Perekonomian
Indonesia BAB I :
· Pengertian sistem
· Sistem Ekonomi di dunia
· Kapitalis dan sosialisme
· Persaingan terkendali
2. Sejarah
ekonomi Indonesia BAB II :
· Sejarah pra kolonialisme
· Era penduduk Jepang
· Ekonomi Indonesia pada
masa :
-
Orde
baru dan Revolusi
-
Orde
lama
3. PDB,pertumbuhan
ekonomi,perubahan struktur perekonomian Indonesia BAB III :
· Produk Indonesia Bruto
· Faktor-faktor penentu
praspek pertumbuhan ekonomi Indonesia
MASA
PASCA KEMERDEKAAN (1945-1950)
Keadaan ekonomi keuangan
pada masa awal kemerdekaan amat buruk,antara lain disebabkan oleh :
·
Inflasi yang sangat tinggi
Disebabkan karena beredarnya lebih dari satu
mata uang secara tidak terkendali. Pada saat itu diperkirakan mata uang Jepang
yang beredar di masyarakat sebenarnya 4 milyar. Dari jumlah tersebut, yang
beredar di Jawa saja, diperkirakan sebesar 1,6 milyar. Jumlah itu kemudian
bertambah ketika pasukan Sekutu berhasil menduduki beberapa kota besar
Indonesian dan menguasai bank-bank. Dari bank-bank itu Sekutu mengedarkan uang
cadangan sebesar 2,3 milyar untuk keperluan operasi mereka. Kelompok masyarakat
yang paling menderita akibat inflasi ini adalah petani.
Hal itu disebabkan pada zaman
pendudukan Jepang petani adalah produsen yang paling banyak menyimpan
mata uang Jepang. Pada waktu itu,untuk sementara waktu pemerintah RI menyatakan
tiga mata uang yang berlaku di wilayah RI, yaitu mata uang De javasche Bank,mata uang pemerintah Hindia Belanda,dan
mata uang pendudukan Jepang. Kemudian pada tanggal 6 maret 1946, pan gliman AFNEI
(Allied Forces for Netherlands East Indies/pasukan sekutu)
mengumumkan berlakunya uang NICA di daerah-daerah yang
dikuasai sekutu. Pada bulan Oktober 1946,pemerintah
RI juga mengeluarkan uang kertas baru,yaitu ORI (Oeang Republik
Indonesia) sebagai pengganti uang Jepang. Berdasarkan
teori moneter,banyaknya jumlah uang yang beredar mempengaruhi kenaikan tingkat
harga.
Pada saat kesulitan ekonomi menghimpit bangsa
Indonesia,tanggal 6 Maret 1946,
Panglima AFNEI yang baru, Letnan Jendral
Sir Montagu Stopford mengumumkan berlakunya uang NICA di daerah-daerah yang diduduki sekutu. Uang NICA ini dimasukan sebagai
pengganti uang Jepang yang nilainya sudah sangat turun. Pemerintah melalui Perdana Menteri Syahrir memproses
tindakan tersebut. Karena hal itu berarti berarti pihak sekutu telah melanggar
persetujuan yang telah disepakati, yakni selama belum ada penyesalan politik mengenai
status Indonesia, tidak akan ada mata uang baru.
Oleh karena itulah pada bulan Oktober 1946 Pemerintah RI, juga melakukan hal yang baru
yaitu Oeang Republik Indonesia (ORI) sebagai pengganti uang Jepang. Untuk melaksanakan koodinasi dalam
pengurusan bidang ekonomi dan keuangan, pemerintah membentuk Bank Negara
Indonesia pada tanggal 1 November 1946. Bank Negara ini semula adalah Yayasan Pusat Bank yang didirikan pada
bulan Juli 1946 dan dipimpin oleh Margono Djojohadikusumo. Bank Negara ini bertugas mengatur nilai
tukar ORI dengan Valuta Asing.
·
Adanya blokade ekonomi oleh Belanda sejak
bulan November 1945 untuk menutup pintu
perdagangan luar negri RI.
Blokade laut ini dimulai
pada bulan November 1945 ini,
menutup pintu keluar – masuk perdagangan RI. Adapun alasan pemerintah Belanda
melakukan blokade ini adalah :
1. Untuk mencegah dimasukkannya senjata dan peralatan militer ke Indonesia
2. Mencegah dikeluarkannya hasil – hasil perkebunan milik Belanda dan milik
asing lainya.
3. Melindungi bangsa Indonesia dari tindakan – tindakan yang dilakukan oleh
orang bukan Indonesia.
·
Kas negara kosong.
·
Eksploitasi besar – besaran di masa
penjajahan.
·
Tanah pertanian rusak.
·
Tenaga kerja dijadikan romusha.
·
Tanah pertanian ditanami tanaman keras
Usaha – usaha yang dilakukan untuk mengatasi kesulitan – kesulitan ekonomi, antara lain :
·
Program Pinjaman Nasional dilaksanakan oleh
menteri keuangan Ir. Surachman dengan persetujuan BP – KNIP, dilakukan pada
bulan Juli 1946
·
Upaya menembus blokade dengan diplomasi
beras ke India seberat 50.000 Ton, mengadakan kontak dengan perusahaan
swasta Amerika dan menembus blokade Belanda di Sumatera dengan tujuan ke
Singapura dan malaysia.
·
Konferensi ekonomi Febuari 1946 dengan
tujuan untuk memperoleh kesepakatan yang bulat dalam menanggulangi masalah –
masalah ekonomi yang mendesak, yaitu : Masalah produksi dan distribusi makanan,
masalah sandang, serta status dan adminitrasi perkebunan – perkebunan.
·
Pembentukan Planning Board ( Badan
Perancang Ekonomi) 19 Januari 1947.
·
Rekonstruksi dan Rasionalisasi Angkatan
Perang (RERA) 1948 yaitu mengalihkan tenaga bekas angkatan perang ke bidang –
bidang produktif.
·
Pada tanggal 19 Januari 1947 dibentuk Planing
Board (badan perancang ekonomi yang bertugas untuk membuat rencana pembangunan
ekonomi jangka waktu 2 sampai 3 tahun). Kemudian IJ Kasimo sebagai menteri
Persediaan Makanan Rakyat menghasilkan rencana produksi lima tahun yang dikenal
dengan nama Kasimo Plan,yang isinya :
1. Memperbanyak
kebun bibit dan padi unggul
2. Pencegahan
penyembelihan hewan pertanian
3. Penanaman
kembali tanah kosong
4. Pemindahan
penduduk (transmigrasi) 20 juta jiwa dari jawa ke sumatera dalam jangka waktu 1
– 15 tahun.
Demokrasi Terpimpin
Kehidupan ekonomi Indonesia
hingga tahun 1959 belum berhasil dengan baik dan tantangan yang menghadangnya
cukup berat. Upaya pemerintah untuk memperbaiki kondisi ekonomi adalah :
Syarifruddin
Kebijakan ini adalah
Pemotongan nilai uang (sanering). Caranya memotong semua uang yang bernilai RP.
2,50 ke atas hingga nilainya tinggal setengahnya. Kebijakan ini dilakukan oleh
menteri keuangan Syarifuddin Prawiranegara pada masa pemerintahan RIS. Tindakan ini dilakukan pada tanggal 20 maret 1950 berdasarkan SK menteri no 01 PU tanggal 19 maret 1950. Tujuannya untuk menanggulangi defisit anggaran sebesar 5,1 milyar.
Dampaknya rakyat kecil
tidak dirugikan karena yang memiliki uang RP. 2,50 ke atas hanya orang – orang
kelas menengah dan kelas atas. Dengan kebijakan ini dapat mengurangi jumlah
uang yang beredar dan pemerintah mendapat kepercayaan dari pemerintah Belanda
dengan mendapat pinjaman RP.200 juta.
Sistem ekonomi gerakan benteng
Sistem ekonomi gerakan
benteng merupakan usaha pemerintah RI untuk mengubah struktur ekonomi yang
berat sebelah yang dilakukan pada masa kabinet Natsir yang direncanakan oleh Sumitro Djojohadikusumo (menteri perdagangan). Program ini bertujuan untuk mengubah struktur ekonomi nasional
(pembangunan ekonomi Indonesia). Programnya adalah :
-
Menumbuhkan kelas pengusaha dikalangan bangsa
indonesia.
-
Para pengusaha indonesia yang bermodal lemah
perlu di beri kesempatan untuk berpatipasi dalam pembangunan ekonomi nasional.
-
Para pengusaha indonesia yang bermodal lemah
perlu di bimbing dan diberikan bantuan kredit.
-
Para pengusaha pri bumi diharapkan secara
bertahan akan berkembang menjadi maju.
Gagasan Sumitro ini dituangkan dalam program kabinet Nafsir dan program gerakan benteng dimulai pada April 1950. Hasilnya selama 3 tahun ( 1950-1953) lebih kurang 700 perusahaan bangsa Indonesia
menerima bantuan Kredit dari program ini. Tetapi tujuan program ini tidak dapat
tercapai dengan baik meskipun beban keuangan pemerintah semakin besar.
Kegagalan program ini disebabkan karena:
-
Para pengusaha pri bumi tidak dapat bersaingt
dengan pengusaha non-pribumi dalam kerangka sistem ekonomi liberal.
-
Para pengusaha pribumi memiliki mentalitas
yang cenderung konsumtif.
-
Para pengusaha pribumi sangat tergantung pada
pemerintah.
-
Para pengusaha kurang mandiri untuk
mengembangkan usahanya.
-
Para pengusaha ingin cepat mendapatkan
keuntungan besar dan menikmati cara hidup mewah.
-
Para pengusaha menyalahgunakan kebijakan
dnegan mencari keuntungan secara cepat dari Kredit yang mereka peroleh
Dampaknya adalah, program ini menjadi salah satu
sumber defisit keuangan. Beban defisit anggaran belanja pada 1952 sebanyak RP. 3 milyar, ditambah sisa defisit
anggaran pada tahun sebelumnya sebesar RP. 1,7 milyar. Sehingga menteri
keuangan Jusuf Wibisono memberikan bantuan kredit khususnya pada pengusaha dan pedagang
nasional dari golongan ekonomi lemah.
Sitem Ekonomi Ali – Baba
Diprakarsai oleh Iskaq Tjokrohadisurio ( menteri perekenomian kabinet Ali) tujuan program ini adalah :
-
Untuk memajukan pengusaha pribumi
-
Agar para pengusaha pri bumi bekerja sama memajukan ekonomi nasional
-
Pertumbuhan dan perkembangan pengusahan swasta nasional pribumi dalam
rangka merombak ekonomi kolonial menjadi ekonomi nasional
-
Memajukan ekonomi indonesia perlu adanya kerja sama antara pengusaha
pribumi dan non-pribumi
Ali digambarkan sebagai
perngusaha pribumi, sedangkan Baba digambarkan sebagai pengusaha non-pribumi
khususnya Cina. Dengan pelaksanaan kebijakan Ali – Baba, pengusaha pribumi
diwajibkan untuk membarikan latihan – latihan dan tanggung jawab kepada tenaga
– tenaga bangsa indonesia agar dapat menduduki jabatan staff. Pemerintah
memberi perlindungan agar mampu bersaing dengan perusahaan asing yang ada.
Program ini tidak berjalan dengan baik sebab :
-
Pengusaha pribumi kurang pengalaman
sehingga hanya dijadikan alat untuk mendapatkan bantuan kredit dari pemerintah.
Sedangkan pengusaha non-pribumi lebih pengalaman dalam memperoleh bantuan
kredit.
-
Indonesia menerapkan sistem Liberal
sehingga lebih mengutamakan persaingan bebas.
-
Pengusaha pribumi belum sanggup bersaing
dalam pasar bebas.
Persaingan Finansial Ekonomi (Finek)
Pada masa kabinet Burhanudi Harahap dikirim delegasi ke Jenewa untuk merundingkan masalah finasial-ekonomi
antara pihak Indonesia dengan pihak Belanda yang dipimpin oleh Anak Agung Gede Agung. Pada tanggal 7
januari 1956 dicapai kesepakatan rencana persetujuan
Finek,yang berisi :
-
Persetujuan Finek hasil KMB dibubarkan
-
Hubungan Finek Indonesia – Belanda didasarkan
atas hubungan Bilateral
-
Hubungan Finek didasarlkan kepada UU Nasional,tidak
boleh diikat oleh perjanjian lain antara kedua belah pihak.
Hasilnya pemerintah Belanda
tidak mau menandatangani,sehingga Indonesia mengambil langkah secara sepihak. Tanggal 13 Febuari 1956 Kabinet
Burhanuddin Harahap melakukan pembubaran Uni Indonesia – Belanda secara
sepihak.
Rencana Pembangunan Lima Tahun (RPLT)
Masa kerja kabinet pada
pada masa liberal yang sangat singkat dan program yang silih berganti
menimbulkan ketidakstabilan politik dan ekonomi yang menyebabkan terjadinya
kemerosotan ekonomi, inflasi, dan lambatnya pelaksaan pembangunan.
Program yang dilaksanakan
umumnya merupakan program jangka pendek, tetapi pada masa kabinet Ali
Sastroamijoyo II, pemerintah membentuk Badan Perencanaan Pembangunan Nasional
yang disebut Biro Perancang Negara. Tugas biro ini merancang pembangunan jangka
panjang. Ir. Juanda diangkat sebagai menteri perancang nasional. Biro ini
berhasil menyusun Rencana Pembangunan Lima Tahun (RPLT) yang rencananya akan
dilaksanakan antara tahun 1956 – 1958 dan disetujui DPR pada tanggal 11
November 1958. Tahun 1957 sasarsan dan prioritas RPLT diubah melalui Musyawarah
Nasional Pembangunan (Munap). Pembiayaan RPLT diperkirakan RP.12,5 milyar.
RPLT tidak dapat berjalan dengan baik disebabkan karena :
-
Adanya depresi ekonomi di Amerika Serikat dan
Eropa Barat pada akhir tahun 1957 dan awal tahun 1958 mengakibatkan ekspor dan
pendapatan negara merosot.
-
Perjuangan pembebasan Irian Barat dengan
melakukan nasionalisasi perusahaan-perusahaan Belanda di Indonesia menimbulkan
gejolak ekonomi.
-
Adanya ketegangan antara pusat dan daerah
sehingga banyak daerah yang melaksanakan kebijakan ekonominya masing-masing.
Musyawarah Nasional Pembangunan
Masa kabinet Juanda terjadi ketegangan hubungan antara pusat dan daerah.
Masalah tersebut untuk sementara waktu dapat teratasi dengan Musayawarah
Nasional Pembangunan (Munap). Tujuan diadakan Munap adalah untuk mengubah
rencana pembangunan agar dapat dihasilkan rencana pembangunan yang menyeluruh untuk
jangka panjang. Tetapi tetap saja rencana pembangunan tersebut tidak dapat
dilaksanakan dengan baik karena :
-
Adanya kesulitan dalam menentukan skala
prioritas.
-
Terjadi ketegangan politik yang tak dapat
diredakan.
-
Timbul pemberontakan PRRI/Permesta.
Hal ini membutuhkan biaya besar untuk menumpas pemberontakan
PRRI/Permesta. Sehingga meningkatkan defisit Indonesia. Memuncaknya ketegangan
politik Indonesia-Belanda menyangkut masalah Irian Barat mencapai konfrontasi
bersenjata.
Orde Baru
Selama lebih dari 30 tahun
pemerintah Orde Baru Presiden Soeharto,ekonomi Indonesia tumbuuh dari GDP per
kapita $70 menjadi lebih dari $1.000 pada tahun 1996. Melalui kebijakan moneter
dan keuangan yang ketat, inflasi ditahan sekitar 5% - 10% . Rupiah stabil dan
dapat diterka,dan pemerintah menerapkan sistem anggaran berimbang. Banyak dari
anggaran pembangunan dibiayai melalui bantuan asing.
Pada pertengahan 1980-an
pemerintah mulai menghilangkan hambatan kepada aktivitas ekonomi. Langkah ini
ditunjukan utamanya pada sektor eksternal dan finansial dan dirancang untuk
meningkatkan lapangan kerja dan pertumbuhan di bidang ekspor non-minyak. GPD
nyata tahunan tumbuh rata-rata mendekati 7% dari 1987-1997 dan banyak analisis
mengakui Indonesia sebagai ekonomi industri dan pasar utama yang berkembang.
Tingkat pertumbuhan ekonomi
yang tinggi dari 1987-1997 menutupi beberapa kelemahan struktual dalam ekonomi
Indonesia. Sistem legal sangat lemah, dan tidak ada cara efektif untuk
menjalankan kontrak, mengumpulkan hutang, atau menuntut atas kebangkrutan.
Aktivitas bank sangat sederhana, dengan peminjaman berdasarkan “collateral”
menyebabkan perlunasan dan pelanggaran peraturan,termasuk batas pinjaman.
Hambatan non-tarif,penyewaan oleh perusahaan milik negara,subsidi
domestik,hambatan ke perdagangan domestik dan hambatan ekspor seluruhnya
menciptakan gangguan ekonomi.
Krisis finasial Asia
Tenggara yang melanda Indonesia pada akhir 1997 dengan cepat berubah menjadi
sebuah krisis ekonomi dan politik. Respon pertama Indonesia terhadap masalah
ini adalah menaikkan tingkat suku bunga domestik untuk mengendalikan naiknya
inflasi dan melemahnya nilai tukar rupiah, dan memperketat kebijakan fiskalnya.
Pada Oktober 1997, Indonesia dan International Monetary Fund (IMF) mencapai
kesepakatan tentang program reformasi ekonomi yang diarahkan pada penstabilan
ekonomi makro dan penghapusan beberapa kebijakan ekonomi yang dinilai merusak,
antara lain Program Permobilan Nasional dan Monopoli, yang melibatkan anggota
keluarga Presiden Soeharto. Rupiah masih belum stabil dalam jangka waktu yang
cukup lama, hingga paa akhirnya Presiden Soeharto terpaksa mengundurkan diri
dari jabatannya sebagai Presiden pada Mei 1998.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar